Tuesday, 29 November 2016

Mahasiswa Penonton Bayaran, Apa Enaknya? Pengalaman Pertama


Assalamualaikum Guys,
Di sela-sela kuliah yang lumayan padat ini, saya ingin curhat di blog tercinta saya ini. Bukan apa-apa, niat untuk nge-blog itu selalu ada, tapi ya namanya mahasiswa tipe anak kost ya kadang apa yang dipikirin cuma jadi wacana saja.

Saya sudah masuk di semester 3 dari jurusan Periklanan yang saya ambil, yang berarti sudah hampir 1,5 tahun saya jadi mahasiswa di dunia Jakarta yang semu ini. Yaa, saya sebagai anak kampung dari Lampung yang merantau di kota besar semacam Jakarta ya pastilah norak dengan keadaan yang ada di Jakarta. Dan ke-norak-an dalam diri saya yang pertama kali menginjakkan diri di Jakarta ini adalah saya ingin nonton artis. Ya, terdengar sangat kampungan mungkin, tapi namanya keinginan semata kan engga salah ya.

Dan hal itu terwujud ketika saya diajak teman  untuk menonton talkshow "Kick Andy", waktu itu saya masih awal semester satu. Saya girang bukan main, pikiran saya saat itu, bisa nonton artis, gratis lagi. Saya ingat di acara itu, hati kecil saya berkata "Ayo dong kamera sorot saya biar bisa masuk tipi", dan hal itu terasa sangat norak menurut saya kalau dipikirkan sekali lagi, hehehe. Dan kegiatan menonton acara besutan Metro TV itu berlangsung 3 kali, dan ketika sudah masuk semester dua awal, saya tidak pernah menjadi penonton lagi.  Rasanya, sudah bosan  untuk menonton artis yang itu-itu saja, dan ingin berhenti ikut jadi penonton acara TV.

Namun, sepertinya takdir berkata lain. Seorang teman satu fakultas saya, Lilis, yang dikenal sebagai bu Ustadzah karena hijab besarnya, mengajak saya untuk jadi penonton bayaran untuk di salah satu acara komedi di Kompas TV, "Ini Baru Berita" dengan Cak Lontong sebagai pembawa acara. Saya tadinya ragu karena ada jam kuliah, namun mengingat dosen yang selalu menghadirkan semua mahasiswanya serta iming-iming uang tunai senilai 40rb dan makanan untuk buka puasa, saya sebagai mahasiswa kost sejati pun, akhirnya tergiur dan menerima tawaran wanita muslimah tersebut. 

Saat itu, saya berangkat ke Kompas TV bersama 3 teman saya termasuk Lilis dan dua lainnya yaitu Aziz (teman satu kampung saya), serta Dian. Dan perlu diketahui, bahwa kami semua adalah mahasiswa golongan beasiswa dari kampung, serta anak kost sejati. So, nominal yang tertera senilai 40rb Rupiah termasuk menggiurkan bagi kami, yang bisa untuk makan 2-3 hari.

Kami berangkat pukul 10 pagi, menggunakan sarana taksi online karena jarak dari kampus ke gedung Kompas TV tidaklah terlampau jauh, hanya sekitar 4 KM saja. Dan sesampainya di Gedung Kompas, saya dan teman-teman langsung ditarik oleh Kak Lia, (koordinator penonton) untuk masuk ke Studio Silver (salah satu nama studio di Kompas), karena ternyata, kami terlambat dan proses tapping (rekaman) sudah berlangsung. 

Dan ternyata, bukan hanya saya dan teman-teman saya yang menjadi penonton bayaran di acara komedi tersebut, namun beberapa kampus juga ikut andil menjadi komponen produksi, salah satunya dari Perguruan Tinggi APP (Akademi Pimpinan Perusahaan). Saya tahu, karena  satu teman saya kuliah di perguruan tinggi calon CEO tersebut. Dan usut punya usut, saya dan ketiga teman saya hanya menjadi penonton bayaran pengganti, karena 4 mahasiswa Perguruan tinggi tersebut tidak bisa hadir. Akhirnya karena tanpa persiapan sedikitpun, saya dan teman saya menggunakan jas almamater dari kampus tersebut. Terkesan mengkhianati kampus sendiri bukan?. Ahh tidak ada yang kenal juga.

Proses tapping acara tersebut berjalan lancar dan selesai saat waktu hampir berbuka puasa. Cukup melelahkan ternyata proses perekaman sebuah acara tv, saya sebagai penonton bayaran amatir, merasa kelelahan untuk tertawa yang kadang dibuat-buat, tapi jujur seru. Dua proses perekaman yang hampir memakan waktu 5 jam, terasa seru karena pembawaan acara yang mendaulat Cak Lontong sebagai pembawa acara terkesan santai dan funny, ya khas nya Cak Lontong saja bagaimana. Yaa, walaupun setelah syuting selesai, kami sebagai aktor sekelebatan ini harus tertawa dibuat-buat selama hampir 10 menit untuk keperluan stock shoot.

Pada akhirnya kami pun  ulang dengan membawa penghasilan 40 ribu rupiah beserta nasi box yang membuat kami cukup senang, lumayan untuk beli paket internet atau beli makan dua hari kedepan. Nasi box itu pun kami santap saat azan berkumandang di emperan bank BTN yang berada persis di samping gedung Kompas TV. Entah kenapa,  rasa lelah dengan bayaran yang mungkin kalau anak muda hits jakarta menganggap 40rb itu hanya untuk secangkir kopi di pusat perbelanjaan, kami tetap merasa senang dan malah jadi ketagihan untuk menjadi penonton bayaran lagi. Rasanya, jiwa anak kampung masih melekat dari dalam diri kami, entah harus bersyukur atau tidak hehehe.

Setelah hari itu, saya dan ketiga teman-teman saya pun selalu dihubungi oleh koordinator penonton acara yang memang khusus mahasiswa untuk menonton acara baik di Kompas TV maupun stasiun TV yang lain. Namun, berdasarkan pengalaman setelah hampir setengah tahun menjadi mahasiswa penonton bayaran, Kompas TV serta Metro TV merupakan stasuin TV yang paling ramah terhadap mahasiswa. Walaupun  nominal bayaran  yang hampir sama dengan TV kebanyakan, namun  Metro TV dan Kompas memberikan benefit lain berupa makan siang atau malam berupa nasi kotak, memang tidak seberapa, namun itu merupakan nilai plus yang selama ini jarang kami dapatkan di stasiun TV swasta yang lain.  Saya juga terkesan dengan para crew di Kompas TV, yang selalu menyelipkan break time untuk sholat di setiap adzan berkumandang, hal yang langka selama 6 bulan ini sangat sulit kami dapatkan di stasiun televisi lain.

Dan melihat makin banyak yang ingin ikut untuk menjadi penonton bayaran, Saya  dan teman-teman akhirnya membuat sebuah grup chat di aplikasi mesengger LINE bernama "Pencari Pundi-Pundi Rupiah" untuk sharing jadwal menjadi penonton bayaran di setiap acara TV. Dimulai dari Sahurnya OVJ yang mana kami harus berangkat pukul 00.00 dari kebon jeruk untuk sampai mampang prapatan untuk menonton acara komedi legendaris tersebut. Hingga Dua Arah di kompas TV yang membahas masalah politik yang sebenarnya saya dan teman-teman engga ngerti-ngerti amat. 

Mungkin, sebenarnya nominal uang sekitaran 20rb-40rb yang didapatkan dari menjadi penonton bayaran ini sangat sedikit apabila dibandingkan dengan harga makanan di Jakarta serta rasa lelah untuk selalu tertawa dan tepuk tangan dengan intensitas tinggi. Namun, saya dan teman-teman menganggap ini sebagai hiburan bagi kami anak desa menghadapi suntuknya Jakarta, walaupun terkadang malah menambah rasa lelah di badan. Tertawa di semua masalah dan lelah yang kami hadapi ini, bisa jadi pelajaran untuk tidak jadi anak manja yang hanya minta duit dari mama papa, serta cerita untuk anak cucu kita nanti, kalau memang cari uang itu tidaklah mudah. Sampai sekarang pun, saya dan teman-teman yang lain masih sering menjadi penonton bayaran, memang langganan kami adalah Kompas TV. Dan perlu diingat, kami mahasiswa penonton bayaran, bukan alay-alay yang sekedar jual teriakan. Hehehe.

Terimakasih teman-teman yang sudah mau membaca tulisan saya dan saya harap saya bisa melanjutkan pengalaman saya ini karena memang banyak sekali senang-sedihnya serta tips triknya hehe, dan dibawah ada sedikit foto dari cerminan kegiatan kami selama ini.

Wassalamualaikum


Sedikit Foto:
Ini saat saya dipilih Denny Cagur untuk memenangkan lomba joget dari NU Green Tea,
malu sih, tapi ya duit siapa yang nolak



Ini adalah salah satu foto setelah kami menonton
 Dua Arah Kompas TV

Reaksi:

0 komentar:

Post a Comment

Powered by Blogger.

Total Pageviews